Tulisan ini hanya sekedar informasi untuk menarik opini dan komentar dari rekan-rekan. Kami berharap mendapatkan tulisan yang valid tentang informasi dibawah ini.
———-
Pak W………., dan teman-teman lain,
Betul pak. Menurut saya yang paling baik untuk advokasi dan kampanye kondom adalah dengan bukti-bukti epidemiologis. Mungkin keterangan saya sebagai urun rembug berikut ini dapat membantu pemahaman tentang kondom.
Tahun 1995 masalah kondom berpori pernah ramai dibicarakan, dan Yayasan Pelita Ilmu kalau tidak salah pernah menggagas seminar tentang kondom ini (waktu itu saya sebagai relawan YPI).
Saya kebetulan waktu itu (akhir 1995) sempat bicara dengan seorang dokter konsultan pabrik kondom dan memberi saya tulisan tentang bagaimana seluk beluk pembuatan kondom latex (saya tidak faham betul karena menyangkut masalah kimia dan fisika yang rumit). Dari tulisan dan pembicaraan tersebut dapat disimpulkan bahwa kondom latex memang mempunyai pori-pori dan pin hole, dengan keterangan kurang lebih seperti berikut:
Pori-pori kondom adalah celah yang terbentuk karena sifat-sifat pada proses polimerisasi partikel latex. Untuk polimer isopren, celah tersebut sekitar 1/60 micron. Tehnis tatalaksana pembuatan kondom berpengaruh atas texture serat polimer. Karena tekanan, serat-serat bertumpuk dan tidak lurus. Oleh karena itu serat-serat yang terbentuk merupakan tenunan. Ketebalan kondom yang harus sesuai standard, menjadikan tumpukan serat cukup tebal dibanding diameter serat (sekitar 100 s/d 200 lapisan tenunan).
Benda padat berdiameter 1/250 micron ( seperti HIV) untuk bisa berpenetrasi melalui pori perlu tekanan. Beruntung bila satu pori saling berhubungan dengan pori lain dilapisan bawahnya dan seterusnya sampai menembus lapisan paling akhir. Secara umum, kemungkinan ini cukup kecil. Kalau itu bisa, jarak tempuh untuk seluruh lapisan, mungkin diperlukan beberapa hari atau jam. Apa ada orang berhubungan seks berjam-jam .. he he (kata konsultan). Keberadaan HIV dalam cairan mani dan sekret vagina juga merupakan penghambat (seperti diterangkan mas dokter Windu Purnomo, salam mas). Efektifitas kondom dalam penularan HIV juga didukung penelitian seperti diterangkan Pak Nadiar. Dulu ada hasil penelitian spt itu juga (atau itu barangkali karena sama pak Adi Sasongko dipinjam, tidak kembali. Maaf ya Adi, sobatku)
Mengenai Pin Hole, ia adalah lubang yang terbentuk karena faktor luar latex (micro-perforasi), yang bisa terjadi karena kotoran, air, udara, tekanan pada saat prosesing kurang sempurna, adanya bekuan halus latex karena polimerisasi micro dan partial (ini yang sering terjadi). Pin hole jumlahnya jutaan pada kondom.
Pertanyaan: dapatkah benda padat berdiameter 1/250 micron tanpa tekanan melalui Pin Hole?
Walaupun jumlah pin hole begitu fantastis (jutaan), tapi harus diperhatikan jarak tempuh benda kecil tersebut yaitu melalui tebal kondom (100 micron). Analoginya, katanya, orang tinggi 1 meter berjalan sepanjang 25 kilometer. Perbedaan diameter benda tsb dangan diameter pin hole, seumpama biji kacang hijau melalui pipa paralon diameter 10 cm sepanjang 10 meter (sesuai hukum fisika: makin kecil diameter benda padat dan makin besar diameter lubang tetapi makin panjang lubang, maka akan makin lama waktu tempuhnya. Relevansinya, mudah mana mengisi corong dengan gula pasir atau pepung terigu?.
Jadi sangat diragukan benda berdiameter 1/250 micron walaupun berjuta-juta jumlahnya, dapat melalui pin hole dalam waktu cepat bila tanpa tekanan (dengan tekanan, harus diperhitungkan tensile strength dan elongation break, kata beliau).
Mudah-mudahan tulisan ini menambah jelas bahwa kondom memang berpori (dalam pengertian seperti diatas) dan ber-pin hole. Tetapi kondom sangat efektif, bisa berfungsi mencegah penularan HIV melalui hubungan seks. Di negara-negara maju, kondom ini yang dipakai untuk pencegahan penularan HIV melalui hubungan seksual, tidak ada benda fisik lainnya.
Salam, TM
—————–
(Tulisan diambil dari milis aids-ina yang di kirimkan ke redaksi. Namun sangat disayangkan pengirim tidak memasukkan alamat lengkap si pembuat tulisan sehingga kami tidak bisa mengkonfirmasi kepada pemilik tulisan mengenai boleh tidaknya tulisan tersebut di publikasikan. Dan mengenai keabsahan isi tulisan ini juga tidak sempat diperiksa, redaksi sangat mengharapkan bantuan dari pembaca jika memiliki hasil penelitian yang dapat mendukung tulisan ini baik salah atau benarnya isi dari informasi. Kritik, komentar dan apapun yang ingin disampaikan seara langsung ke owner, harap di kirimkan ke bengkulupeduliaids@yahoo.co.id)
DIarsipkan di bawah: opini | Ditandai: Kondom berpori