Dear my friend
Terima kasih, telah mengirimkan komentar di blog bengkulupeduliaids yang kami asuh. Blog ini kami bikin untuk memfasilitasi kita-kita untuk menunjukkan muka. Dan saya mengucapkan terima kasih karena sudah mengomentari. Dan akan saya pelajari lagi kosakata yang benar. Jika saya sudah mendapatkan kebenaran, akan saya perbaiki. Tapi saya masih yakin kalau kosakata yang saya gunakan benar. Bahwa benar kita sedang menderita. Menderita karena infeksi HIV. Sama seperti orang menderita malaria karena terinfeksi virus malaria. Oke lah. .. akan saya carikan kata penggantinya. …
Saya sangat tertarik dengan komentar anda bahwa : kita bukan penderita, apalagi objek.
Benar, dan saya sangat setuju kalau kita tidak ingin menjadikan HIV dalam tubuh kita sebagai bahan penelitian orang lain. Saya juga tidak setuju kalau Orang yang tidak terinfeksi HIV mendapatkan UANG dengan “menjual” kita yang terinfeksi HIV. Ingat, masih ada orang yang menjual “kita” untuk menghidupi dirinya, padahal dia bukan bagian dari diri kita, jangankan terinfeksi, merasakan pun saya yakin hanya dimulut nya untuk mendapatkan simpati kita. Sehingga kita membiarkan secara tidak langsung diri kita “dijual” oleh orang itu untuk mendapatkan uang, agar bisa tetap hidup. hehehe… maaf kalau tersinggung.
Tulisan yang saya buat, bukan karena saya adalah objek, tapi saya butuh kejelasan. Saat ini kitapun masih bergantung dengan orang lain. Kita sendiri tidak berani mengangkat kepala, menunjukkan muka ke orang lain. Kita masih berlindung dibalik tubuh orang lain. Dan begitupun anda dan saya saat ini. Saat ini saya butuh pengobatan, dan perawatan. Namun, ternyata perawatan yang adapun hanya ucapan dimulut. Pada dasarnya mereka takut dengan kita. Dan mereka membuatkan “kandang” yang jauh dari pemukiman. Sakit kita ini sama, yang beda hanya di darah kita ada virus HIV. Orang seharusnya lebih takut tertular malaria.
Tapi saya bersyukur, saya tidak bekerja untuk orang lain. Saya bekerja untuk diri saya sendiri dan untuk saudara saya. Untuk mereka yang “tidak berani” menunjukkan muka. Untung saya mendapatkan teman-teman yang bisa memberikan informasi ke saya. Dan saya tidak merasa dijadikan objek. Saya yang berbuat untuk orang lain.
Jangan hanya bisa mengoreksi orang lain. Ayo… kita bisa. Kita sudah punya organisasi. Di nasional kita punya JOTHI. Ayo gerakkan jothi. Ingat, orang yang tahu diri kita adalah orang yang senasib dengan kita. Orang lain hanya bisa turut merasakan, tidak merasakan sendiri.
Berhenti duduk dibalik badan orang. Ayo bergerak, dan berjuang. Kalau memang KPA tidak mau bergerak, ya karena KPA hanya lembaga fasilitasi. Siapa yang difasilitasi ? Loh, kalau orang yang ingin difasilitasi saja tidak mau bersuara, mau menyuarakan apa ? saya bukan memihak KPA. Saya pun secara pribadi kurang sreg dengan kinerja KPA. Tapi saya tidak mau menyalahkan saja. Berani menyalahkan, harus berani mengoreksi, dan memberikan saran yang baik. Jangan cuma bisa jadi penonton yang mengomentari pemain bola. Sedangkan kita sendiri tidak paham bagaimana bermain bola. Jadi, ayo ikut belajar main bola… dan kasih saran yang terbaik.
Dan, inilah yang bisa kami perbuat. Kami bantu sebarluaskan dukungan dengan membuat blog. Mencari tahu bagaimana membuat dukungan. Dan… ayo berbuat… jangan cuma nongkrong minta orang lain berbuat untuk kita. Jangan cuma bisa minta, sedangkan kita tidak bisa memberi. Jangan hanya menuntut HAK kalau kita sendiri tidak melakukan KEWAJIBAN. Memang enak kalau minta, tapi kalau memberi… Banyak mikirnya….
Jangan lupa sobat, apa yang ada dalam diri kita “bonus” yang diberikan tuhan. Cukup kita sendiri yang mendapatkan itu. Tidak orang lain.
Jangan jadikan diri sendiri sebagai objek. Jadi, jangan berlindung dari badan orang lain. Ayo berusaha…
Saya sendiri sudah capek untuk mengemis meminta tolong kepada orang lain. Tapi apa daya, memang kita harus minta tolong, tapi jangan berlindung di balik badan orang. Ayo gunakan badan sendiri. Toh, tidak semua orang perlu tahu kondisi kita. Tapi orang perlu tahu siapa kita. Kita adalah korban, tapi tidak ingin terus menjadi korban. Kita harus berbuat untuk orang lain…
Ada suatu saat kita mendapatkan ucapan terima kasih dari orang lain, maka jangan berdiri dibalik badan orang. Agar bukan orang itu tahu kepada siapa diucapkan terima kasih.
Mengenai ARV, saya sendiri tidak setuju kalau hidup kita tergantung orang lain. Kita harus bisa mensupport diri kita. ARV hanya memperpanjang hidup kita. Tapi, kalaupun kita hidup hanya menyusahkan orang lain, apalah gunanya. Kita masih punya tangan, ayo bekerja. Yang bisa menjaga diri kita bukan obat, tetapi diri kita sendiri.
Ingat, apa yang ada dalam diri kita adalah “bonus” dari perilaku kita sendiri. Jangan kita pungkiri. Dan jalan untuk memperbaiki diri adalah, jangan sampai orang lain merasakan “bonus” seperti diri kita.
Dari saya yang tidak berani menampakkan muka.
salam kenal….
———-
(tulisan diatas adalah email dari owner 2 ke salah satu pengunjung blog yang mengomentari salah satu tulisan di dalam blog ini. Melihat isinya cukup inspiratif, atas kesepakatan dari owner 1 dan izin dari owner 2, maka owner 3 memasukkan ke dalam blog ini. Jika ada yang kurang berkenan dari pengunjung blog, silahkan hubungi bengkulupeduliaids@yahoo.co.id. Salam, owner 3)
DIarsipkan di bawah: opini | Ditandai: pemberdayaan positif