Gubernur Bengkulu diminta Serius Tangani HIV/AIDS

bharnantoGUBERNUR dan seluruh jajarannya diminta agar lebih serius mengantisipasi penyebaran virus HIV AIDS di Bengkulu terkait belum adanya alat tes HIV di rumah sakit yang ada di Bengkulu.

 

“Permintaan ini akan kita buat secara tertulis melalui Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN),” kata Wakil Ketua KPA Nasional Budi Harnanto di Bengkulu, Minggu (12/10).

 

Hal ini disampaikan Budi setelah mengetahui bahwa Bengkulu belum memiliki alat tes HIV yang akurat. Yang ada saat ini “rapid” sangat diragukan keabsahannya terbukti dari sejumlah kasus penderita HIV yang melakukan tes di RSUD M Yunus dengan alat tersebut hasilnya negatif.

 

“Sedangkan kalau mereka (penderita) tes di Jakarta dengan alat yang sama hasilnya positif, kemungkinan disebabkan alat yang ada di rumah sakit daerah sudah hampir habis masa berlakunya,” katanya.

 

Alat yang lebih akurat yaitu “Elisa” diharapkan dapat disediakan di seluruh rumah sakit umum daerah, baik di tingkat satu maupun tingkat dua sebab penyebaran HIV sudah hampir merata di seluruh pelosok daerah.

 

Anggota KPA Provinsi Bengkulu, Budi Ansori menambahkan bahwa selama ini penderita HIV harus melakukan tes di Jakarta, sementara ongkos untuk mendapatkan hasil tes tersebut sangat tinggi.

 

“Mereka harus ke Jakarta kalau ingin melakukan tes, ini butuh biaya tinggi sementara para penderita tidak seluruhnya mampu,” katanya.

 

Tidak adanya alat tes HIV di Bengkulu mengakibatkan data penderita HIV/AIDS di Bengkulu jauh dari yang ada di lapangan.

 

Data Dinkes Provinsi Bengkulu pada tahun 2008 terdapat sebanyak 34 orang dengan HIV/AIDS (Odha), sedangkan data RSUD M Yunus terdapat 195 Odha dan data Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mengurusi penderita HIV/AIDS dan pengguna obat terlarang, Layanan Komunitas (Layak) menyebutkan jumlah Odha mencapai 319 pada 2008.

 

Selain alat tes HIV, rumah sakit di Bengkulu juga belum memiliki alat tes CD4 untuk mengetahui jumlah virus HIV di dalam tubuh penderita yang berguna menentukan penanganan terhadap pasien.

 

Demikian juga dengan alat HB untuk mengukur jumlah sel darah merah yang sudah rusak di tubuh pasien. Ketiadaan alat ini mengakibatkan sejumlah Odha harus menemui ajalnya lebih cepat, kata Ansori.

 

“Alat-alat ini berfungsi bagi pihak kesehatan untuk menangani Odha sehingga penyelamatan dapat maksimal,” katanya.

 

Sumber : Jurnal Nasional, dalam http://www.aidsindonesia.or.id

3 Tanggapan

  1. akhirnyaa wabsite ini terwujud jugaa yaa

    oh iyaa temen-temen di bengkulu tetap semangat yaa

    een dari tempat lain ngedukung semampu kuu

    lagi siap -siap hass yaa

  2. good lah,,,,!!!finally ada jg situs yg lebih moderat&g bikin orang jadi muna. tapi beritanya masih kurang banyak misalnya kena aids itu dibengkulu banyakan karena apa,,,,?sex bebaskah??? atau budaya gotong royong pake jarum suntik kah???atau ortunya kena trus nuler di anaknya kah??.Trus kapan kita harus periksa ???.setiap tahun kah?seperti medical check up atau apa gitu?&hopelly ada messenger yg bisa di kunjungi temen2 sesama pemerhati aids or yg juga sedang “mendalami aids”(sdh terinfeksi),,,jadi bisa ngobrol and tanya2 seputar pengobatan yg dilakukannya atau adakah pil gratis dr pemerintah&susu gratis&pemeriksaan gratis untuk para perempuan korban KEGANASAN lelaki???? and kl yg sudah pernah kena&virusnya udah kabur dr badan trus temen2 ngadain kegiatan apa?dimana?.ada g wadah untuk relawan seperti didaerah jawa srikandi or any other,apapun itu pastinya sangat membantu untuk masyarakat bengkulu khususnya.GOOD JOB@i-z

  3. hmm. kutipan di atas benarnya juga. sudah saatnya bengkulu memiliki alat tes yang namanya CD4 untuk mengetahui virus HIV di dalam tubuh orang-orang yang ingin melakukan tes HIV.
    masa kita mau ketinggalan terus….
    kapan majunya….
    ajo bergegas….
    tancap gasnya…. bengkulu

Tinggalkan Balasan